Showing posts with label - - b o o k - -. Show all posts
Showing posts with label - - b o o k - -. Show all posts

Thursday, March 08, 2012

Divortiare (by. Ika Natassa)

akhirnya setelah menyelesaikan tugas yg paling membebani pikiran, ada juga waktu untuk liat buku-buku yg udah beredar dan bisa untuk dibacaa :)

lagi iseng mampir ke gramedia, trus mampir dh ke rak novel...
udah lama banget ga liat-liat rak ini... karna selama ini ga sempet untuk liat-liat, dan kalaupun sempet buat liat-liat dan beli, ga sempet juga buat bacanya....
sekarang saya sudah sempatt...


Judul : Divortiare
Penulis : Ika Natassa (see her in here)

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Umum
Jakarta, Juni 2008
jumlah halaman : 328 halaman

Commitment is a funny thing, you know ? It's almost like getting a tatto. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.

Buku ini menceritakan tentang worckaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.


and what people said ??
"Divortiare. Novel kedua karya Ika natassa ini dengan sangat mudah bisa membuat orang jatuh cinta dengan gaya bertuturnya. Seru, cerdas, brilliantly funny, dan bisa membuat pembaca larut ke dalam cerita fiksi metropop ini. Selesai membaca akan membuat kita tidak ingin 'bercerai' dengan karya-karya Ika Natassa. She is very talented writer. Reading her novels is like a serious addiction. Bravo Ika!"
Ninit Yunita - Penulis, www.istribawel.com

"Walau ada beberapa bahasa yang tidak bisa kuterima dengan lapang (mungkin karna usiaku yg masih muda, dan belum pernah bersentuhan dengan dunia pekerjaan + berkeluarga), i like this novel. Novel ini memberikan gambaran ttg hal-hal yang disuka seorang wanita dari seorang pria. Cara menggambarkan 2 sosok pria yang hidup di kehidupan Alexandra sangat sempurna. Menggambarkan kehidupan Alexandra juga sangat sempurna. Membuat kita mengerti dilema yang dihadapi.
Anyway, i like this novel so much~"
Icha Yaresya - cha35.blogspot.com

pictures :
Divortiare Draft
Divortiare Draft

Monday, July 19, 2010

Women Food and Good

"Sang penulis benar-benar mengalami sendiri peperangannya terhadap berat badan, terhadap diet yang gagal, terhadap rasa ketidak amanan dan ketidak puasan terhadap dirinya."

Sejak dulu, saya orang yang suka sekali buku. Buku bisa membuat perubahan yang besar dalam hidup saya. Saya pun kerap mencari buku-buku yang membuat pandangan hidup saya bertambah luas, membuat saya lebih cerdas dan lebih aware terhadap berbagai hal. Bisa dibilang, buku adalah salah satu hal yang memerdekakan cara berpikir saya.

Nah, ini ada buku yang menarik yang saya baca: Women Food and God karangan Geneen Roth. Saat saya membaca review buku ini di situs Oprah, saya langsung memesan buku ini melalui Amazon. Sekarang buku ini bisa kita peroleh di toko buku Periplus, namun sejauh ini masih dalam versi bahasa Inggris.

Yang menarik adalah sang penulis, Geneen Roth, benar-benar mengalami sendiri peperangannya terhadap berat badan, terhadap diet yang gagal, terhadap rasa ketidak amanan dan ketidak puasan terhadap dirinya. Terhadap berbagai luka batin yang membuatnya bermasalah dengan pola makan. Ia berhasil keluar dari pergulatan tersebut dan sering menyelenggarakan berbagai program retreat yang berkaitan dengan bukunya ini. Anda bahkan bisa mengikuti retreat-nya secara on line di http://www.geneenroth.com/selfguided/

Buku ini membuat saya sadar bahwa adanya berbagai lapisan psikologis yang diwakili oleh makanan. Lapisan psikologis yang tidak kita sadari tersebut membuat kita terobsesi dengan diet, membuat kita secara konstan berperang dengan makanan dan secara konstan pula kita kalah dari peperangan batin kita melawan makanan. Kita tidak menyadari perang apa yang sebetulnya bergulat dalam batin kita. Buku ini membuat saya mengerti bahwa hubungan kita terhadap makanan sebetulnya mewakili hubungan kita yang terdalam terhadap diri sendiri. Otomatis, bagaimana kita berhubungan dengan diri kita menggambarkan bagaimana hubungan kita dengan kehidupan.

"Banyak saat dimana kita tidak berdamai dengan kehidupan, bahkan dengan Tuhan, dan kita mencarinya melalui makanan."

Dengan demikian ini menggambarkan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Lebih dalam, buku ini membahas mengenai bagaimana kita memandang kebahagiaan serta rasa damai terhadap diri sendiri. Bagaimana kita memandang sebuah hidup yang memuaskan. Semua itu tentunya berpengaruh terhadap gaya hidup dan cara kita memperlakukan makanan. Jadi sebetulnya akarnya ada dalam kondisi mentalitas kita, kondisi psikologis kita, kondisi spiritualitas kita. Masalah kita terhadap pola makan kita ternyata berkaitan secara dalam dan luas dengan semua hal dalam kehidupan kecuali makanan itu sendiri!

Makanan = lambang rasa aman dan nyaman
Saya membaca buku ini saat saya sedang berevolusi dengan cara saya memperlakukan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya. Judulnya buat saya sangat menggelitik : Woman Food and God. Sangat revolusioner. Saya sudah membacanya dan sedang membacanya lagi untuk kedua kalinya (ada beberapa buku yang saya baca berulang karena setiap saat ada pemahaman yang berkembang). Apa kaitannya wanita, makanan dan Tuhan?

Salah satu inti dari buku ini adalah kita sering sekali berpikir jika tubuh kita bertambah gemuk bahwa itu adalah melulu tentang banyaknya makanan yang masuk. Tapi sebenarnya, kenyataannya, makanan itu hanya representasi dari kondisi mental kita. Contohnya, jika makanan itu adalah simbol keamanan dan kenyamanan bagi kita (waktu kecil kita menyusui ibu, dimana air susunya adalah makanan pertana kita, hingga tanpa disadari ibu merupakan sosok pelindung sejak kita bayi dimana kita merasa aman dan nyaman), maka pada saat kita merasa tidak aman serta tidak nyaman seperti saat ada hal yang membuat kita stress, kita akan melarikan diri ke makanan agar kita merasa tenang dan nyaman.

Jadi sebetulnya, ada hal-hal yang sifatnya jauh lebih dalam di banding makanan itu sendiri. Bagaimana hubungan batin kita terhadap makanan. Mengerti tentang apa saja perasaan yang di wakili oleh makanan, membuat kita sadar bahwa ada banyak hal yang kita kompensasikan kepada makanan yang kita makan, yang sebetulnya untuk mengisi kriteria tertentu dari diri kita yang saat itu sedang tidak bisa kita penuhi.

Diet, penghargaan diri, tujuan hidup dan spiritualitas
Yang menarik lagi di dalam buku ini adalah pembahasan tentang diet. Kebanyakan wanita selalu berdiet agar kurus, agar memenuhi standard penerimaan masyarakat terhadap apa yang di sebut 'cantik'. Sayapun pernah melewati fase itu, sebelum akhirnya sekarang saya lebih fokuskan ke kesehatan lahir dan batin sebagai manusia yang utuh. Ini hal yang sulit karena yang harus kita 'kerjakan' adalah kondisi mental kita yang tidak terlihat.

Dibahas bahwa seringkali diet yang dijalani wanita gagal total. Banyak diantaranya berhasil menurunkan berat badan. Tapi kemudian badan kembali ke berat semula, bahkan lebih berat dari berat awalnya. Ternyata diet memberikan kita perasaan bahwa diri kita penting. Ada sense of importance di dalamnya. It makes us feel 'important'. Diet secara tidak disadari membuat para wanita merasa punya tujuan hidup setiap harinya. Tanpa disadari itu sebetulnya adalah cara melarikian diri untuk menutupi kurangnya rasa percaya diri terhadap seberapa berharganya diri kita, seberapa kita menghargai diri sendiri.

Diet mengisi rasa kekosongan atau rasa hampa kita terhadap tujuan hidup kita. Akui saja, kita sering merasa saat kita berdiet kita berada dalam sebuah misi penting bukan? Pada kenyataannya diet tidak mengatasi akar permasalahan kita terhadap bagaimana kita menghargai diri kita sendiri, diet akhirnya tidak mengatasi akar permasalahan kita terhadap kebingungan kita terhadap tujuan hidup. Jadi sebetulnya mungkin saja diet mengisi ketidaktahuan kita terhadap apa yang menjadi tujuan kita hidup di dunia ini. Dan akhirnya beranggapan "Jika saya diet, saya akan kurus. Jika saya kurus, saya akan lebih menarik. Lingkungan saya akan menghargai saya, akan menanggapi saya. Saya akan bahagia. Hidup saya akan lebih mudah. Saya akan mudah meraih yang ingin saya capai."

Sering kali kita makan pada saat tidak lapar, bahwa sebetulnya secara psikologis kita 'lapar' terhadap berbagai hal yang mengkhawatirkan kita yang tidak atau belum berhasil kita ketahui jawabannya. Namun makanan begitu mudah untuk di dapat dan di sentuh oleh diri kita dan oleh karenanya makanan sesaat menjadi 'jawaban' atas 'kelaparan' diri kita, pelarian yang akhirnya menambah masalah baru jika kerap di lakukan. Ternyata kedalaman spiritualitas kita mempengaruhi sepenuhnya terhadap bagaimana kita memperlakukan makanan.

Untuk lebih tahu seperti apa pengarang menjelaskan pergulatan wanita, makanan dan diet serta kaitannya dengan spiritualitas, berikut kalimat yang saya kutip dari buku tersebut:

"Women turn to food when they are not hungry because they are hungry for something they can't name: a connection to what is beyond the concerns of daily life. Something deathless, something sacred. But replacing the hunger for divine connection with Double Stuf Oreos is like giving a glass of sand to a person dying of thirst. It creates more thirst, more panic. Combine the utter ineficacy of dieting with the lack of spiritual awareness and we have generations of mad, ravenous, self loathing women."

Secara general, buku ini membahas apa yang tidak pernah dibahas oleh buku lainnya. Pada saat semua pakar gizi dan pakar diet berbicara, pada saat kita menjalani misipaling mulia abad ini untuk terlihat langsing dan kerap berganti program diet, dokter dan berbagai obat pengurus, kenyataannya yang harus kita hadapi sejak awal yang paling menjadi esensi dasar adalah pemahaman diri kita terhadap diri kita sendiri dan terhadap kehidupan.

Banyak hal dimana kita tidak berdamai dengan diri sendiri dan mencari kedamaian dari makanan. Banyak saat dimana kita tidak berdamai dengan kehidupan, bahkan dengan Tuhan, dan kita mencarinya melalui makanan. Banyak saat dimana rasa kekecewaan kita terhadap diri atau kehidupan, kita obati dengan rasa sedap dari makanan, dan berpikir " saya merasa kecewa, tapi setidaknya saya bisa merasakan rasa senang dari enaknya makanan ini". Atau perasaan seperti " saya tidak puas dengan diri saya, tapi setidaknya saya bisa memuaskan diri saya dengan makanan ini".


Setelah membaca buku ini, pola pikir saya berubah dan saya kerap harus tetap menjaga perubahan tersebut, pemahaman saya terhadap diri saya (bahkan terhadap rasa sakit, rasa takut, kekecewaan dan berbagai kekurangan dalam diri saya).

Ini mempengaruhi hubungan saya terhadap kehidupan dan Tuhan, yang menjadi sumber dasar dalam menjalani hidup. Serta merta itu merubah bagaimana saya menyikapi makanan, bahkan akhirnya, itu berpengaruh sepenuhnya terhadap kehidupan saya seutuhnya.

Seperti yang ditulis Geneen Roth dalam kalimat berikut:
"In the process of resisting emptiness, in the act of turning away from our feelings, of trying and trying again to loose the same twenty, fifty, eighty pounds, we ignore what could utterly transform us. But when we welcome what we most to avoid, we evoke that in us that is not a story, not caught in the past, not some old image of ourselves. We evoke divinity itself. And in doing so, we can hold emptiness, old hurts, fear in our cupped hands and behold our missing hearts".

Buku ini wajib di baca bagi siapapun (bahkan bukan hanya wanita) yang ingin berevolusi, bahkan bukan hanya dalam mengatur pola makan, bukan hanya bagi yang ingin langsing, tapi untuk mengerti bahwa berbagai hal itu bermula dari pengertian kita yang sesadarnya terhadap diri dan kehidupan.

Saturday, June 26, 2010

Conan 57

Conan 57 udah keluaaar ~

tp ya ternyata di one manga udah sampe chapter 740, sedangkah di chapter terakhir komik conan 57 itu kalo di one manga baru chapter 597...
jauh bener yaaak ~
tp ttp mw koleksi conan komiknya akh, biar keren....

tp jadinya ga penasaran lagi sama ceritanya...
nah pas Chapter 597 di conan 57 kan ceritanya bersambung, emang bikin penasaran karna ini berhubungan sama c orang" berbaju hitam (terutama GIN ma Vodca)
jadi ini di kasih bocorannya deee ~
sumber : conan chapter 598

Dear Boys Act III

ga berhenti sampe Act II ajah, Dear Boys melajutkan ceritanya ke Act III
*udah ketebak c, secara no trakhir Act II masih ngegantung*

buat para pencinta basket + Dear Boys, Dear Boys Act III udah beredar lhoo di pasaran. yang udah beredar itu no 1 dan no 2...
gambar cover no 1 :

























gambar cover no 2 :















sementara yang bisa di dapetin baru ini doank...
yang no 3 udah keluar bocoran gambar covernya, cuma blm available...

























kalau harga di toko buku yang ada di mall mall ya seperti biasa Rp. 15.000
tp kalo mw dapet murah mending jangan beli di toko buku gede gituh, beli ajah yang di kios" buku... biasanya di sana di kasih discount !!
yipiiieee ~

Sunday, May 09, 2010

Dear Dylan

~ Dear Dylan~

Satu tahun setelah balik pacaran lagi, hubungan Dylan dan Alice masih adem ayem aja. Konflik-konflik kecil yang mereka alami paling-paling karena Dylan tukang ngaret dan Alice suka cemburu buta. Apalagi pas Dylan syuting video klip bersama model kondang, Regina.
Tunggu! Konflik kecil? Adanya Regina justru awal dari masalah Dylan dan Alice. Alice yang masih anak SMA jelas nggak pede banget kalau dibanding-bandingkan dengan Regina yang model. Mana mau Dylan yang vokalis band ngetop Skillful terus pacaran dengan anak SMA kalau ada model cuantiiik yang mau jadi pacarnya?
Dan masalah demi masalah terus menguji cinta Dylan dan Alice. Mulai dari persiapan pernikahan kakak Dylan, sampai ke peristiwa Dylan memukul vokalis band lain dan kerusuhan yang menimpa konser Skillful. Kalau masalahnya sebesar itu, mungkinkah cinta Dylan dan Alice bertahan?



tertarik ?
buku ini bisa dibeli di toko buku besar (Gramedia, Gunung Agung, dll)
ato mw beli online ? silakan kunjungi website klik

Stephanie Zen
chubby_stephz@yahoo.com
http://smoothzensations.blogspot.com
http://www.lottiecyberstore.blogspot.com

Dylan, I Love You

~Dylan, I Love You ~

Berpikir kalau semua cewek blasteran pasti cantik? Oho… kamu salah besar! Lihat deh Alice. Meski blasteran, hidungnya nggak bangir, dia nggak punya tinggi badan 175 cm, dan dia benci banget jadi setengah bule karena sewaktu kecil selalu diejek “bule kampung”!

Tapi hidup Alice langsung berubah total setelah dia ketemu Dylan Siregar, vokalis band Skillful. Cowok itu benar-benar jenis cowok yang adorable; ganteng, terkenal, keren, tajir, low profile, pokoknya sanggup bikin para makhluk bernama cewek klepek-klepek!

Masalahnya, Alice nggak tau gimana caranya supaya dekat sama Dylan. Cowok itu kan selebriti, sementara dia cuma anak SMA biasa. Dan Alice tambah jengkel karena temannya menyarankan dia untuk nggak mengkhayal terlalu muluk tentang Dylan. Memangnya salah ya, kalau kita berkhayal bisa pacaran sama seleb?

Dan emangnya… seandainya nih, impian itu tercapai, apa jadi pacar Dylan benar-benar seindah yang Alice bayangkan?


tertarik ?
buku ini bisa dibeli di toko buku besar (Gramedia, Gunung Agung, dll)
ato mw beli online ? silakan kunjungi website klik atau klik


Stephanie Zen
chubby_stephz@yahoo.com
http://smoothzensations.blogspot.com
http://www.lottiecyberstore.blogspot.com

Tuesday, April 27, 2010

Breaking Dawn [Stephenie Meyer]

Breaking Dawn
Stephenie Meyer

published 2008 - - - 754 pages


Summary (from the book jacket)

To be irrevocably in love with a vampire is both a fantasy and a nightmare woven into a dangerously heightened reality for Bella Swan. Pulled in one direction by her intense passion for Edward Cullen, and in another by her profound connection to werewolf Jacob Black, she has endured a tumultuous year of temptation, loss and strife to reach the ultimate turning point. Her imminent choice, to either join the dark but seductive world of immortals or pursue a fully human life, has become the thread from which the fate of two tribes hangs.

Now that Bella has made her decision, a startling chain of unprecedented events is about to unfold with potentially devastating and unfathomable consequences. Just when the frayed strands of Bella’s life – first discovered in Twilight, then scattered and torn in New Moon and Eclipse – seem ready to heal and knit together, could they be destroyed… forever?


The Review

Breaking Dawn is the fourth and final novel in Stephenie Meyer’s hugely popular Twilight saga. With all the hype surrounding the release of Breaking Dawn I doubt that there is anyone left on the planet that isn’t aware of the books publication! However, readers who haven’t read any of the previous books in this saga should not be tempted to start here – you really need to read these books in order since the story continues over the series.

For readers who have read Stephenie Meyer’s previous offerings Breaking Dawn is the long awaited and highly anticipated end to the compelling tale of vampire Edward and human Bella’s impossible romance. Beginnings can be tricky but Twilight got this series off to a fantastic start with its modern day fairy tale quality and heart stopping romance. New Moon further built on that with Bella and Edward’s bleakly painful separation and subsequent happy reunion - but since the end of New Moon the romantic tension that had been driving the story into the heady heights compelling reading has been lacking.

As a result Eclipse was a different novel – it was clear that what ever happened in Eclipse Edward and Bella would be together forever – and the stresses on their relationship came from outside forces rather than from within the relationship itself. Breaking Dawn is similar. The romantic tension between Edward and Bella is non-existent – it is clear that whatever happens to them (death, Jacob, mutant vampire baby) their love is non-negotiable and to a certain extent this alters the feel of the story, losing some of the romantic magic of Twilight in the process.

If beginnings are tricky, endings are fraught with difficulties. At the beginning readers have no expectations but by the end everyone seems to have an opinion on how they would have finished the book if they were writing it. Thankfully Stephenie Meyer was writing the ending so the resulting story is a good one and in my opinion a fitting end to this fantastic series.

In Breaking Dawn Stephenie Meyer addresses one of the major issues that some readers had with Bella’s character – namely that she wasn’t independent enough. This novel sees Bella coming into her own power and proving that she is more that capable of independent thought and action. While the Cullen family vampires have always been kind to Bella, it has been clear that she was no match for this talented bunch - but Bella’s character gains strengths that make her just as unique and talented as the rest of her new family.

Breaking Dawn is a weighty novel, weighing in at over 750 pages but it doesn’t feel like a long read. The story is well paced and well balanced, with a mixture of exciting supernatural action as well as good character development and romance. The strength of Stephenie Meyer’s writing as ever lies in her exploration of love in its many guises and Breaking Dawn gives her the opportunity to examine the relationships between mother and child, father and daughter, husband and wife and the bonds of friendship.

Breaking Dawn is a different novel to Twilight (and New Moon) and some readers may be disappointed by this but I’m not one of them. I don’t want to keep buying the same story over and over again just with a different title and cover picture – I enjoy seeing the development of the characters as well as seeing the development of the author’s writing. Breaking Dawn is more like Eclipse, Edward and Bella are sure of their love for each other but outside forces (this time it’s the Volturi) may tear them apart as the story reaches its thrilling climax.

The only small gripe I have about this novel is that in wrapping up the story every loose end has been neatly tied into a pretty bow - sometimes it’s good to leave something dangling in the breeze! Oh, and I don’t like the book's cover either. But apart from that, this book is all that I was personally hoping it would be.